Kenangan untuk Ustadz Takyudin, S.A.F — Sosok yang Tulus dan Taat dalam Pengabdian

 


Waktu seolah berjalan dengan hening pada tanggal 16 Oktober 2025. Hari itu, KUA Kecamatan Pancalang kehilangan salah satu sosok terbaiknya—Ustadz Takyudin, S.A.F, penyuluh agama Islam yang selama ini menjadi teladan dalam ketulusan dan keteguhan iman. Esok harinya, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-52, beliau dimakamkan. Sebuah takdir yang terasa begitu indah dan penuh makna: lahir dan kembali kepada Sang Khalik di tanggal yang sama.

Ustadz Takyudin dikenal sebagai pribadi yang taat beragama dan istiqamah dalam ibadah. Shalat lima waktu adalah napas kesehariannya. Hampir setiap hari, beliau menjadi imam shalat Dzuhur dan Ashar di kantor KUA, membimbing rekan-rekan dengan suara lembut dan bacaan yang penuh kekhusyukan. Dalam kesibukan kerja dan tumpukan laporan, beliau selalu menyempatkan diri untuk menegakkan shalat tepat waktu—seolah ingin menegaskan bahwa ibadah adalah pusat dari segala aktivitas.

Sifat kebapakan yang melekat pada dirinya membuat beliau sangat dihormati dan disayangi. Ia bukan hanya seorang penyuluh, tapi juga penasehat, pendengar, sekaligus teman bagi banyak orang di KUA Pancalang. Kelembutan hati dan kesabarannya menjadikan beliau sosok yang menenangkan, mudah didekati, dan sulit tergantikan.

Meski tidak begitu akrab dengan teknologi, semangat beliau dalam bekerja tak pernah surut. Dengan segala keterbatasan, beliau tetap berusaha menyelesaikan laporan, kadang melalui telepon genggam sederhana miliknya. Tak ada keluhan, tak ada rasa malas—yang ada hanyalah tekad untuk menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Sesekali, sistem absensi kantor mengalami kendala, dan ada satu dua karyawan yang harus menunggu lebih lama karena data absennya tidak terbaca. Dalam situasi seperti itu, Ustadz Takyudin sering menjadi salah satu yang tetap bertahan hingga sore menjelang. Dengan wajah tenang dan sabar, beliau menunggu proses perbaikan, terus mencoba hingga akhirnya data absensinya terbaca—sebuah kesabaran kecil yang mencerminkan ketulusan besar dalam menjalankan tugas.

Sikap sederhana itu mencerminkan ketulusan seorang pegawai yang bekerja bukan untuk pujian, tetapi karena tanggung jawab. Dalam setiap tugas yang beliau jalankan, selalu tampak kesabaran dan keikhlasan. Tidak ada ambisi yang berlebihan, hanya niat tulus untuk berbuat baik dan menunaikan kewajiban. Dari beliau kita belajar bahwa pengabdian tidak diukur dari kecanggihan alat atau kemudahan fasilitas, melainkan dari keteguhan hati untuk terus berusaha, walau dengan segala keterbatasan.

Kini, sepekan sudah beliau meninggalkan kita. Namun, jejaknya masih hangat terasa—di ruang kerja, di saf-saf shalat, dan dalam setiap senyum rekan yang mengenangnya. Ustadz Takyudin bukan hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga teladan: tentang kesungguhan dalam tugas, ketaatan dalam ibadah, dan ketulusan dalam pengabdian.

Semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik, di sisi orang-orang saleh. Dan semoga setiap amal dan kebaikan yang pernah beliau lakukan menjadi cahaya abadi yang terus menyinari perjalanan kita semua.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Selamat jalan, Ustadz Takyudin. Doa kami menyertai langkahmu menuju keabadian.