Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pancalang kembali menunjukkan peran aktifnya dalam pembinaan generasi muda dengan menggelar Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di SMA Manba'ul 'Ulum, Desa Silebu, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan. BRUS merupakan program nasional Kementerian Agama Republik Indonesia yang dirancang khusus untuk memberikan edukasi dan pendampingan komprehensif kepada remaja sekolah. Fokus utama program ini adalah memperkuat pemahaman agama, etika pergaulan, dan kesiapan remaja dalam menghadapi kehidupan dewasa, sehingga mereka memiliki pondasi karakter yang kuat dan sesuai dengan nilai-nilai Qur’ani. Kegiatan ini berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB dan diikuti oleh 50 siswa dan siswi kelas XII.
Pembentukan Karakter dan Pencegahan Dini
Dalam sambutannya, Kepala KUA Pancalang, Bapak Akhirudin, S.Sos., M.Pd.I, menegaskan bahwa BRUS menjadi sarana penting dalam pembentukan karakter remaja. Beliau menjelaskan bahwa kegiatan positif ini bukan hanya ajang thalabul ilmi (menuntut ilmu), tetapi juga merupakan bentuk nyata KUA menyentuh langsung lapisan masyarakat, khususnya remaja. Bapak Akhirudin menekankan bahwa program ini adalah upaya pencegahan dini agar para remaja tidak salah langkah dalam pergaulan mereka di era modern ini.
Beliau juga menambahkan bahwa sangat penting bagi para remaja untuk dibekali pemahaman dasar mengenai kehidupan dewasa, termasuk kesiapan fisik dan psikis jika suatu saat mereka akan menghadapi dunia pernikahan, yang harus sesuai dengan syariat Islam dan hukum negara yang berlaku.
Sesi Interaktif Bersama Narasumber
Kegiatan BRUS di wilayah Kuningan Utara kali ini mendapat sambutan positif dari pihak sekolah maupun para peserta. Kegiatan ini menghadirkan dua penyuluh agama Islam sebagai narasumber utama. Sesi pertama diisi oleh Bapak Daniel Ramdanulansyah, S.Th.I dari KUA Pancalang, sementara sesi kedua disampaikan oleh Bapak Asep Sopiyudin, S.Ag dari KUA Kecamatan Cilimus.
Metode penyampaian materi dibuat sangat interaktif, meliputi diskusi, pengisian kuesioner, hingga sesi studi kasus yang merangsang pemikiran kritis siswa dalam menghadapi berbagai situasi remaja masa kini. Para narasumber juga menyelipkan materi penting mengenai akhlak remaja sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadis, serta penjelasan mendalam tentang hukum "tabur tuai" (sebab-akibat) sebagai bekal moral dalam pergaulan.
Respon terhadap pelaksanaan kegiatan ini sangat positif. Para siswa dan siswi menyampaikan bahwa proses belajar dalam BRUS dirancang sangat interaktif dan jauh dari kesan membosankan. Mereka merasa bahwa penyampaian materi tidak hanya mudah dipahami tetapi juga memicu semangat mereka untuk terus aktif menambah ilmu pengetahuan. Keberhasilan metode ini terlihat dari antusiasme kolektif seluruh peserta dalam mengikuti setiap sesi, dari diskusi hingga studi kasus.
Kegiatan BRUS ini diharapkan dapat memperkuat karakter remaja sehingga mereka mampu menjadi Generasi Keren Qur’ani yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan bekal moral dan keilmuan yang memadai.
.jpeg)
.jpeg)