PANCALANG – Semangat patriotisme menyelimuti halaman Kantor Kecamatan Pancalang dalam upacara peringatan Hari Bela Negara ke-77 pada Jumat (19/12). Di antara barisan peserta, kehadiran jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pancalang menjadi simbol kuat bahwa pengabdian agama dan negara adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dalam menjaga keutuhan NKRI.
Menapak Tilas: Sejarah di Balik 19 Desember
Peringatan Hari Bela Negara tidak lahir begitu saja. Momentum ini berpijak pada peristiwa krusial dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Tepat pada 19 Desember 1948, Indonesia berada dalam kondisi genting saat Belanda melancarkan Agresi Militer II dan menduduki Yogyakarta yang kala itu merupakan Ibu Kota Negara.
Jatuhnya Yogyakarta diikuti dengan ditawannya pemimpin bangsa, Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta. Namun, eksistensi Republik Indonesia tidak runtuh. Di tengah situasi darurat, terbentuklah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, Sumatera Barat, yang dipimpin oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara.
Melalui Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2006, tanggal 19 Desember ditetapkan sebagai Hari Bela Negara untuk mengenang perjuangan PDRI yang berhasil membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia tetap berdiri tegak meski dalam tekanan penjajah.
Bela Negara dalam Perspektif Layanan Keagamaan
Bagi jajaran KUA Pancalang, memaknai sejarah PDRI di era modern berarti melakukan transformasi perjuangan. Jika dulu bela negara dilakukan dengan mempertahankan pemerintahan dari serangan fisik, kini KUA melakukannya melalui penguatan ketahanan sosial dan spiritual masyarakat.
Beberapa poin utama yang menjadi refleksi KUA Pancalang pada momen ini antara lain:
Penguatan Moderasi Beragama: Memastikan kerukunan antarumat beragama sebagai fondasi stabilitas nasional.
Ketahanan Keluarga: Membangun bangsa dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga yang harmonis melalui bimbingan perkawinan dan penyuluhan.
Integritas Layanan: Memberikan pelayanan publik yang transparan dan bebas pungli sebagai wujud cinta tanah air.
Sinergi Lintas Sektoral di Kecamatan Pancalang
Upacara yang dihadiri oleh unsur Forkopimcam (Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan), tokoh masyarakat, dan pelajar ini memperlihatkan sinergitas yang erat. Sinergi ini mencerminkan bahwa urusan bela negara adalah tanggung jawab kolektif, di mana institusi keagamaan seperti KUA memegang peran sentral dalam menjaga moralitas dan persatuan warga di tingkat akar rumput.
Upacara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh perwakilan KUA, memohon keberkahan untuk bangsa Indonesia agar selalu dijauhkan dari perpecahan dan senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
