Dalam setiap rumah
tangga, kebahagiaan adalah cita-cita yang didambakan. Namun, jalan menuju
keluarga sakinah tidak selalu mulus. Ada kalanya cinta diuji oleh perbedaan,
kesibukan, bahkan ujian kehidupan. Di sinilah umat Islam diajak menengok
kembali teladan terbaik dalam membangun keluarga penuh ketenangan — Rasulullah
Muhammad ﷺ.
Kasih Sayang sebagai Pondasi Rumah Tangga
Kisah cinta Rasulullah
dengan Khadijah binti Khuwailid adalah awal yang indah dari kehidupan rumah
tangga beliau. Khadijah bukan hanya istri, tetapi juga sahabat sejati dan
penopang dakwah. Meski usianya lebih tua, Rasulullah tidak pernah memandangnya
dengan rendah. Sebaliknya, beliau menghargai Khadijah dengan tulus,
mengaguminya karena keteguhan iman dan kelembutan hatinya.
Selama lebih dari dua
dekade, rumah tangga mereka berjalan harmonis tanpa pernah terdengar
pertengkaran besar. Rasulullah tidak pernah menyakiti Khadijah, baik secara
fisik maupun ucapan. Ketika Khadijah wafat, Rasulullah masih mengenangnya
dengan air mata dan doa. Bahkan, setiap kali ada sahabat lama Khadijah datang,
beliau menyambut dengan hormat seraya berkata, “Ia adalah sahabat Khadijah.”
Begitulah cinta sejati
dalam Islam — bukan sekadar romantika duniawi, melainkan penghormatan yang
hidup bahkan setelah kematian. Kasih sayang seperti inilah yang menjadi pondasi
keluarga sakinah.
Komunikasi yang Lembut dan Penuh Empati
Dalam kehidupan rumah
tangga, Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa komunikasi yang lembut adalah kunci
ketenangan. Ketika Aisyah r.a. cemburu, Rasulullah tidak menegurnya dengan
kemarahan. Beliau justru tersenyum, memahami bahwa cemburu adalah tanda cinta.
Dalam satu riwayat, saat Aisyah menumpahkan makanan yang dibawa istri lain
karena cemburu, Rasulullah hanya berkata lembut, “Ibumu sedang cemburu.”
Kemudian beliau mengumpulkan kembali makanan itu dengan sabar.
Rasulullah tidak hanya
berbicara dengan kata-kata, tetapi juga dengan hati. Beliau mendengarkan,
memahami, dan merespons dengan bijak. Inilah seni komunikasi rumah tangga yang
sering terlupakan: bahwa kelembutan lebih kuat daripada kemarahan.
Kesetaraan dan Kerja Sama di Rumah
Rasulullah ﷺ tidak
pernah merasa rendah untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Ketika Aisyah
ditanya tentang kebiasaan Rasulullah di rumah, ia menjawab, “Beliau biasa
membantu pekerjaan keluarganya; menjahit bajunya, memperbaiki sandalnya, dan
memerah susu kambingnya.” (HR. Bukhari)
Sikap ini menunjukkan
bahwa kepemimpinan dalam keluarga bukan berarti otoriter, tetapi pelayan dan
teladan. Beliau mencontohkan bahwa suami sejati bukan hanya kepala rumah
tangga, tetapi juga sahabat dan mitra bagi istri. Dalam kesederhanaan itu,
tumbuhlah rasa saling menghargai dan saling mendukung.
Mendidik Keluarga dengan Nilai Iman
Keluarga Rasulullah
adalah sekolah pertama bagi generasi beriman. Beliau membimbing keluarganya
bukan dengan paksaan, melainkan dengan kasih sayang. Ketika membangunkan Ali
dan Fatimah untuk salat malam, Rasulullah tidak berteriak atau memaksa. Beliau
hanya menyentuh bahu mereka sambil berkata lembut, “Bangunlah, untuk
menunaikan salat.”
Dengan cara yang
lembut itu, beliau menanamkan kebiasaan ibadah sejak dini. Rasulullah tahu
bahwa keteladanan lebih ampuh daripada perintah. Beliau juga membiasakan
keluarga untuk bersyukur, bersabar, dan tidak berlebih-lebihan dalam urusan
dunia. Nilai-nilai spiritual inilah yang membuat rumah tangga beliau selalu
tenteram, meski hidup dalam kesederhanaan.
Menjadikan Rumah sebagai Ladang Dakwah
Bagi Rasulullah, rumah
bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga ladang dakwah dan sumber
keteladanan. Dari rumah sederhana itu, terpancar cahaya akhlak yang menuntun
umat. Aisyah menjadi guru besar bagi para sahabat, Fatimah tumbuh menjadi
wanita salehah yang dermawan, dan Ali menjadi pemimpin yang adil.
Semua itu lahir karena
rumah Rasulullah dibangun atas dasar cinta dan iman. Tidak ada kekerasan, tidak
ada ego yang ditinggikan. Beliau menanamkan bahwa keluarga adalah amanah yang
harus dijaga dengan kasih dan tanggung jawab. Dari sanalah lahir generasi saleh
yang menjadi penerus risalah.
Keluarga Sakinah: Buah dari Akhlak yang Mulia
Rasulullah ﷺ
mengajarkan bahwa sakinah tidak datang dari harta, kedudukan, atau kecantikan.
Sakinah lahir dari akhlak, kesabaran, dan niat tulus untuk saling menenangkan.
Dalam hadis beliau bersabda:
“Sebaik-baik kalian
adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik
terhadap keluargaku.” (HR.
Tirmidzi)
Hadis ini menjadi
prinsip dasar bagi setiap muslim. Kebaikan yang sejati dimulai dari rumah —
dari cara kita memperlakukan pasangan, anak, dan keluarga dengan cinta dan
hormat. Bila rumah penuh kasih, maka masyarakat pun akan damai.
Pelajaran untuk Keluarga Zaman Sekarang
Di tengah hiruk-pikuk
dunia modern, banyak keluarga kehilangan kehangatan karena sibuk mengejar
materi. Rasulullah mengingatkan bahwa ketenangan sejati tidak ditentukan oleh
kemewahan, melainkan oleh keberkahan. Rumah yang sempit bisa terasa lapang jika
diisi dengan doa dan senyum. Sebaliknya, rumah megah bisa terasa hampa bila
kosong dari dzikir dan kasih sayang.
Keluarga sakinah bukan
berarti tanpa masalah, tetapi keluarga yang mampu menghadapi masalah dengan
sabar dan saling menguatkan. Dalam setiap ujian, Rasulullah mencontohkan untuk
tetap berpegang pada sabar dan tawakal. Beliau tidak pernah melempar kesalahan
pada istri, tetapi bersama-sama mencari jalan keluar.
Meneladani Rumah Tangga Rasulullah
Teladan Rasulullah ﷺ
mengajarkan bahwa cinta sejati adalah tentang memberi, bukan menuntut. Tentang
memahami, bukan menghakimi. Tentang menuntun, bukan mendominasi. Beliau
membangun rumah tangga bukan di atas hawa nafsu, melainkan atas dasar iman dan
kasih sayang yang tulus.
Dari teladan beliau,
umat Islam belajar bahwa keluarga sakinah bukan utopia, melainkan hasil dari
kerja keras, doa, dan keteladanan. Dengan menjadikan akhlak Rasulullah sebagai
kompas, setiap rumah bisa menjadi tempat yang menenangkan, menumbuhkan kasih,
dan memantulkan cahaya rahmat Allah.
